
Desa Padasari di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, tengah menghadapi krisis air bersih yang semakin mendesak. Wilayah ini merupakan lokasi pembangunan huntara (hunian sementara) bagi korban bencana tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Keterbatasan akses terhadap air bersih menjadi tantangan besar, terutama bagi warga yang tinggal di lokasi pengungsian.
Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, langsung turun tangan menanggapi situasi ini. Ia mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk segera menurunkan mesin Air Siap Minum (Arsinum) guna mengatasi kekurangan air bersih di area huntara. Mesin ini dikenal mampu mengolah air dari berbagai sumber, termasuk yang keruh atau berlumpur, menjadi air layak konsumsi.
Krisis Air Bersih di Huntara Padasari
Krisis air bersih di Huntara Padasari bukan hal yang bisa diabaikan. Kondisi ini terungkap saat kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke lokasi. Dari hasil peninjauan lapangan, terlihat bahwa warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Fikri Faqih menerima laporan resmi dari pihak Kementerian Pekerjaan Umum mengenai keterbatasan sumber air di kawasan tersebut. Laporan itu menjadi dasar bagi Fikri untuk segera mengambil langkah-langkah konkret, termasuk berkoordinasi dengan BRIN.
1. Peninjauan Lapangan oleh Komisi X DPR RI
Kunjungan kerja dilakukan di Gedung Setda Kabupaten Semarang, Ungaran, pada akhir Februari 2026. Dalam kesempatan itu, Fikri Faqih mendengarkan langsung keluhan warga dan pihak terkait mengenai krisis air bersih.
2. Laporan Resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum
Laporan menyebutkan bahwa sumber air di sekitar huntara sangat terbatas. Kualitas air yang tersedia juga tidak memenuhi standar kesehatan, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi.
3. Permintaan Dukungan ke BRIN
Fikri kemudian menghubungi Kepala BRIN untuk meminta bantuan penyediaan mesin Arsinum. Mesin ini dipilih karena kemampuannya dalam mengolah air dari berbagai sumber menjadi air minum berkualitas.
Mesin Arsinum: Solusi Air Bersih yang Dibutuhkan
Mesin Arsinum adalah inovasi dari BRIN yang dirancang untuk mengatasi permasalahan air bersih di daerah terpencil atau terdampak bencana. Alat ini memiliki kapasitas hingga 10.000 liter per hari, menjadikannya sangat efektif untuk memenuhi kebutuhan air warga huntara.
Namun, saat ini seluruh stok mesin Arsinum telah dialokasikan ke Aceh. Artinya, Padasari harus menunggu produksi ulang atau realokasi dari unit-unit yang sudah ada.
1. Kapasitas Produksi Harian
- Kapasitas: Hingga 10.000 liter per hari
- Sumber air: Bisa dari sungai, sumur, atau air hujan
- Kualitas output: Memenuhi standar Kementerian Kesehatan
2. Proses Penjernihan Air
Mesin ini menggunakan teknologi multi-tahap yang mampu menyaring partikel besar, menghilangkan bau, dan mensterilkan bakteri berbahaya. Hasilnya adalah air yang jernih dan aman untuk diminum.
3. Keterbatasan Stok dan Distribusi
| Lokasi | Status Distribusi |
|---|---|
| Aceh | Sudah diterima |
| Padasari, Tegal | Menunggu produksi ulang |
| Wilayah lain | Dalam proses alokasi |
4. Upaya Percepatan oleh Fikri Faqih
Fikri Faqih menekankan perlunya percepatan distribusi mesin Arsinum ke Padasari. Ia juga membuka kemungkinan melibatkan pemerintah provinsi sebagai fasilitator agar proses bisa lebih cepat.
Peran BRIN dalam Penanganan Krisis Air
BRIN memiliki peran penting dalam menyediakan solusi teknologi untuk mengatasi krisis air bersih. Dengan mesin Arsinum, badan ini berpotensi membantu banyak daerah yang mengalami kondisi serupa dengan Padasari.
Namun, tantangan distribusi dan produksi menjadi penghambat utama. Fikri Faqih berharap agar BRIN bisa memprioritaskan daerah-daerah yang mendesak, seperti lokasi huntara di Tegal.
1. Teknologi yang Digunakan
- Penyaringan partikel besar
- Filtrasi mikro
- UV sterilisasi
- Mineralisasi untuk keseimbangan pH
2. Keunggulan Mesin Arsinum
- Fleksibel digunakan di berbagai lokasi
- Mudah dioperasionalkan
- Ramah lingkungan
- Dapat diintegrasikan dengan sumber air lokal
3. Tantangan Distribusi
- Stok terbatas
- Proses produksi memakan waktu
- Koordinasi antar lembaga perlu dipercepat
Upaya Jangka Panjang: Membangun Ketahanan Air Bersih
Selain solusi jangka pendek seperti mesin Arsinum, diperlukan juga strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan air bersih di daerah rawan bencana. Hal ini mencakup pembangunan infrastruktur air, pelatihan masyarakat, dan penguatan kolaborasi antar lembaga.
Fikri Faqih menilai bahwa ketahanan air bersih tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga aksesibilitas dan kualitas. Dengan pendekatan holistik, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam krisis air bersih berulang.
1. Infrastruktur Air Bersih
- Pembangunan sumur bor
- Pembuatan reservoir air bersih
- Pengembangan sistem distribusi lokal
2. Pelatihan Masyarakat
- Pengelolaan mesin Arsinum
- Pemeliharaan sistem penyaringan air
- Edukasi sanitasi dan higiene
3. Kolaborasi Antar Lembaga
- Koordinasi antara DPR, BRIN, dan Kementerian PUPR
- Keterlibatan pemerintah daerah
- Dukungan dari organisasi masyarakat
Permasalahan Tambahan: Lesunya Industri Logam di Tegal
Selain krisis air, Fikri Faqih juga menyoroti kondisi industri logam di Tegal yang kini sedang mengalami kemunduran. Wilayah yang dulu dikenal sebagai “Jepangnya Indonesia” kini hanya tinggal kenangan.
Sekitar 70 hingga 80 persen industri logam rumahan di Tegal dilaporkan sudah tidak aktif. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendampingan riset, terutama di bidang ilmu bahan atau material science.
1. Penyebab Kemunduran Industri
- Kurangnya inovasi teknologi
- Keterbatasan akses riset
- Persaingan pasar global yang ketat
2. Dampak pada Ekonomi Lokal
- Banyak pekerja terpaksa menganggur
- Menurunnya pendapatan daerah
- Pindahnya tenaga kerja ke sektor lain
3. Potensi Pemulihan dengan Dukungan Riset
- Peningkatan kualitas produk melalui inovasi
- Pengembangan teknologi produksi yang efisien
- Penguatan kapasitas SDM lokal
Langkah Strategis Menuju Pemulihan Total
Menangani krisis air bersih dan kemunduran industri membutuhkan langkah strategis yang terintegrasi. Tidak cukup hanya dengan solusi teknis semata, tetapi juga perlu dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.
Fikri Faqih menilai bahwa tantangan ini bisa dijadikan peluang untuk membangun kembali sistem yang lebih tangguh dan mandiri, terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana.
1. Integrasi Teknologi dan Kebijakan
- Mesin Arsinum sebagai solusi teknis
- Kebijakan distribusi air bersih yang merata
- Regulasi yang mendukung inovasi lokal
2. Penguatan Ekosistem Riset
- Kolaborasi antara BRIN dan perguruan tinggi lokal
- Pendanaan riset terapan untuk industri kecil
- Pelatihan teknologi modern bagi perajin
3. Pemberdayaan Masyarakat
- Pelatihan pengelolaan air bersih
- Peningkatan kapasitas produksi industri lokal
- Penguatan koperasi dan UMKM
Kesimpulan
Krisis air bersih di Huntara Padasari adalah cerminan dari tantangan lebih besar yang dihadapi wilayah rawan bencana. Dengan dukungan teknologi seperti mesin Arsinum dan kolaborasi lintas lembaga, harapan pemulihan bisa terwujud.
Namun, solusi tidak boleh hanya berhenti di situ. Penguatan sektor industri lokal, terutama yang selama ini mengalami kemunduran, juga menjadi bagian penting dari pemulihan berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan dan kondisi lapangan.





