Indeks Harga Saham Gabungan () mencatat koreksi sebesar 0,44 persen atau turun 36,28 poin ke level 8.235 sepanjang pekan lalu. Pergerakan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perubahan kebijakan Amerika Serikat. Investor tampak lebih waspada, memilih menahan diri dari eksposur berisiko sebelum situasi lebih jelas.

Sentimen negatif juga datang dari dalam negeri, terutama terkait tekanan fiskal yang mulai terasa. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan berada di atas ambang batas 15 persen, sebuah level yang menjadi indikator penting dalam menilai keuangan negara. Semua ini menciptakan suasana hati-hati di pasar modal domestik.

Gejolak Timur Tengah Picu Sentimen Negatif

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan operasi militer besar-besaran ke sejumlah target strategis Iran. Operasi yang diberi nama kode “Epic Fury” ini menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur yang diduga terkait dengan program rudal serta nuklir Teheran.

Laporan awal menyebutkan korban jiwa, termasuk warga sipil. Otoritas Israel bahkan mengindikasikan kemungkinan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, meski belum ada konfirmasi resmi. Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke beberapa negara sekutu AS di kawasan Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Irak.

Baca Juga:  Aset Kripto Indonesia Tembus Rp360 Triliun, Pentingnya Edukasi untuk Investor

1. Penutupan Jalur Selat Hormuz Ganggu Rantai Pasok Global

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pembatasan akses di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu arteri perdagangan energi terpenting di dunia, menyuplai sekitar 20 hingga 25 persen minyak mentah dan LNG global setiap .

Komoditas Porsi Global
Minyak Mentah 20–25%
LNG 20–25%

Gangguan di jalur ini bisa berdampak signifikan pada rantai pasok energi global. Investor langsung merespons dengan meningkatkan eksposur pada aset safe haven, sementara pasar saham, termasuk IHSG, mulai terkoreksi.

2. Sirene Darurat di Israel dan Mobilisasi Pasukan

Sirene peringatan udara terdengar di seluruh Israel. Negara itu langsung melakukan mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan. Selain itu, zona peringatan maritim juga diterapkan di wilayah strategis untuk melindungi kapal sipil dari potensi serangan.

Situasi ini memicu ketidakpastian yang luas. Investor mulai menghindari aset berisiko tinggi, termasuk saham-saham di pasar berkembang seperti . IHSG pun ikut terdampak, mencatat koreksi seiring lonjakan volatilitas global.

Kebijakan Ekonomi AS Tambah Tekanan

Di tengah gejolak geopolitik, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global yang diterapkan era Presiden Donald Trump karena dianggap melampaui kewenangan .

Namun, Trump merespons dengan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen. Selain itu, Departemen Perdagangan AS juga menetapkan bea masuk anti-subsidi terhadap panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran 86 hingga 143,3 persen.

3. Dampak pada Sektor Energi Terbarukan Indonesia

Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia. Bea masuk yang tinggi membuat produk lokal kurang kompetitif di pasar AS. Ini menambah tekanan pada neraca perdagangan dan sektor industri yang bergantung pada ekspor.

Sementara itu, investor mulai mengevaluasi ulang eksposur mereka di sektor yang sensitif terhadap kebijakan perdagangan luar negeri. Saham-saham yang memiliki ketergantungan tinggi pada ekspor ke AS mulai tertekan.

4. Tarif Impor Global Baru Picu Perlambatan Ekspor

Rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen bisa berdampak pada berbagai sektor. Ini termasuk industri manufaktur, pertanian, dan teknologi yang bergantung pada rantai pasok global. Perlambatan ekspor berpotensi mengurangi pendapatan devisa negara.

Baca Juga:  Mengapa Carlo Pernat Khawatir Ducati Terlalu Mengandalkan Marc Marquez?
Sektor Dampak Potensial
Manufaktur Biaya produksi meningkat, margin menyusut
Pertanian Ekspor terhambat, harga jual turun
Teknologi Ketergantungan pada komponen impor berisiko

Kebijakan ini menambah ketidakpastian di pasar global. Investor mulai menilai ulang risiko dan potensi return dari setiap instrumen investasi.

Tekanan Fiskal Domestik Semakin Terasa

Di dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa. S&P Global Ratings memperingatkan bahwa rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara berpotensi bertahan di atas 15 persen. Level ini menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal negara.

Jika rasio ini terus tinggi dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat tetap terbuka. Meski outlook saat ini masih stabil, tekanan ini bisa memicu volatilitas di pasar keuangan domestik.

5. Dampak pada Rupiah dan Stabilitas Makro

Tekanan fiskal yang tinggi bisa memicu pelemahan nilai tukar rupiah. Jika investor asing mulai menarik dari pasar Indonesia, tekanan pada mata uang lokal akan semakin besar. Ini bisa memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.

Selain itu, pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya impor. Sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku impor, seperti aviasi dan manufaktur, bisa mengalami kenaikan biaya produksi.

6. Perubahan Sentimen Investor Asing

Investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di emerging markets ketika tekanan fiskal meningkat. Ini bisa memicu outflow dana dari pasar saham Indonesia. IHSG pun berpotensi terus mengalami tekanan dalam jangka pendek.

Namun, sektor-sektor tertentu seperti migas dan tambang masih memiliki potensi untuk mengimbangi tekanan tersebut, terutama jika harga komoditas global naik.

Proyeksi IHSG di Tengah Ketidakpastian

Imam Gunadi dari PT Indo Premier Sekuritas menyatakan bahwa kombinasi risiko geopolitik, kebijakan perdagangan AS, dan tekanan fiskal domestik menciptakan kondisi kehati-hatian di pasar. IHSG diproyeksikan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi.

Baca Juga:  Kerja di Jepang 2026, Ini Syarat, Gaji, dan Cara Daftar Terbaru untuk WNI

7. Rentang Support dan Resistance IHSG

Secara teknikal, IHSG pekan ini diproyeksikan bergerak dalam rentang support 8.031 dan resistance 8.437. Jika harga minyak melonjak tajam dan rupiah melemah, volatilitas IHSG berpotensi meningkat.

Level Nilai
Support 8.031
Resistance 8.437

Investor perlu waspada terhadap pergerakan tiba-tiba, terutama menjelang rilis data ekonomi penting seperti PMI Manufaktur, Neraca Perdagangan, dan Inflasi.

8. Data Ekonomi yang Menanti

Beberapa data ekonomi penting akan dirilis dalam waktu dekat. Ini termasuk PMI Manufaktur Indonesia, Neraca Perdagangan Januari 2026, Inflasi Februari 2026, serta data dari AS dan China. Semua ini bisa memicu pergerakan besar di pasar saham.

Data Tanggal Rilis
PMI Manufaktur Indonesia Awal Maret 2026
Neraca Perdagangan Januari Pertengahan Maret 2026
Inflasi Februari Akhir Februari 2026

Investor sebaiknya memantau data-data ini secara cermat untuk mengantisipasi pergerakan pasar.

Rekomendasi Saham di Tengah Ketidakpastian

Menghadapi situasi ini, IPOT merekomendasikan strategi buy on breakout untuk beberapa saham dan instrumen yang memiliki potensi tumbuh di tengah ketidakpastian.

9. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

Sebagai emiten hulu migas, ENRG memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga minyak. Jika harga energi global bertahan di level tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz, saham ini berpotensi menguntungkan.

  • Strategi: Buy on breakout
  • Entry: Rp 1.820
  • Target: Rp 2.000
  • Stop loss: Rp 1.755

10. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)

Sebagai produsen emas, ARCI bisa diuntungkan dari meningkatnya permintaan aset safe haven. Emas cenderung menguat dalam kondisi ketidakpastian geopolitik.

  • Strategi: Buy on breakout
  • Entry: Rp 1.900
  • Target: Rp 2.030
  • Stop loss: Rp 1.840

11. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

Sebagai saham defensif, HMSP menawarkan stabilitas pendapatan di tengah volatilitas pasar. Permintaan produk rokok domestik cenderung tidak sensitif terhadap siklus ekonomi.

  • Strategi: Buy on breakout
  • Entry: Rp 910
  • Target: Rp 980
  • Stop loss: Rp 875

12. Reksa Dana Saham Premier ETF Syariah JII (XIJI)

ETF ini memiliki eksposur pada sektor komoditas dan energi. Dalam skenario harga minyak dan komoditas tinggi, kinerja ETF ini berpotensi meningkat.

  • Strategi: Buy
  • Entry: Rp 682
  • Target: Rp 700
  • Stop loss: Rp 671

Kesimpulan

Ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan perubahan kebijakan ekonomi AS memberikan tekanan pada IHSG. Investor tampak lebih hati-hati, memilih menahan diri dari eksposur berisiko tinggi.

Namun, sektor-sektor tertentu seperti energi dan logam masih memiliki potensi untuk tumbuh. yang tepat bisa memanfaatkan peluang ini tanpa mengabaikan risiko yang ada.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan. Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu.