
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sepuluh poin tausiyah menyusul eskalasi serangan militer Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran. Langkah ini diambil sebagai respons moral dan keagamaan terhadap situasi yang berpotensi memicu perang regional di Timur Tengah. Tausiyah ini tidak hanya menyampaikan kecaman, tetapi juga menawarkan panduan spiritual dan etis bagi umat Islam dalam menyikapi krisis yang semakin rumit.
Diterbitkan pada 11 Ramadan 1447 Hijriah atau 1 Maret 2026, dokumen bernomor Kep-28/DP-MUI/III/2026 ini menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan persatuan di tengah ketegangan global. Ramadan seharusnya menjadi waktu refleksi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, bukan ajang memperburuk konflik.
Duka dan Kecaman atas Serangan Militer
Serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, menjadi pemicu utama rilisnya tausiyah ini. MUI menyampaikan bela sungkawa dan mendoakan almarhum mendapat tempat terhormat di sisi Tuhan. Namun, di balik duka tersebut, MUI juga menyuarakan kecaman tegas terhadap tindakan agresi yang dianggap melanggar prinsip dasar kemanusiaan dan hukum internasional.
Tindakan militer Israel yang didukung AS dinilai tidak hanya melanggar kedaulatan Iran, tetapi juga bertentangan dengan semangat UUD 1945, khususnya amanat Pembukaan yang menekankan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Seruan Menahan Diri dan Hormati Hukum Internasional
Meski memahami langkah Iran sebagai bentuk pembelaan diri, MUI tetap menyerukan agar semua pihak menahan diri. Konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti AS dan Israel berpotensi memicu dampak regional yang sangat luas, termasuk ancaman bagi stabilitas energi global dan keamanan warga sipil di kawasan.
MUI merujuk pada Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB yang secara tegas melarang penggunaan kekuatan terhadap negara lain. Organisasi ini juga meminta PBB dan OKI untuk segera mengambil langkah konkret dalam meredam ketegangan dan melindungi warga sipil yang menjadi korban konflik.
Penyebab dan Latar Belakang Konflik
Untuk memahami respons MUI, penting melihat akar masalah yang memicu eskalasi ini. Konflik bukan terjadi begitu saja, tetapi merupakan hasil dari dinamika geopolitik yang kompleks.
1. Ketegangan Historis antara Iran dan Israel
Iran dan Israel memiliki sejarah ketegangan yang panjang, terutama terkait isu nuklir, pengaruh regional, dan dukungan terhadap kelompok bersenjata. Israel kerap melihat Iran sebagai ancaman eksistensial, sementara Iran menilai Israel sebagai negara pendudukan yang ilegitim.
2. Peran Amerika Serikat dalam Konflik Timur Tengah
Keterlibatan AS dalam mendukung Israel secara militer dan politik memperburuk ketegangan. Dukungan ini tidak hanya berupa senjata, tetapi juga proteksi diplomatik di forum internasional, termasuk veto di Dewan Keamanan PBB.
3. Isu Palestina sebagai Simpul Konflik
Palestina menjadi isu sentral yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika konflik ini. MUI menilai bahwa semua ketegangan di kawasan tidak akan berakhir selama isu Palestina tetap tidak diselesaikan secara adil.
Panduan Moral dan Spiritual dari MUI
Dalam tausiyahnya, MUI tidak hanya menyampaikan kecaman, tetapi juga memberikan panduan spiritual dan moral bagi umat Islam. Berikut adalah poin-poin penting yang disampaikan:
1. Menjaga Ketenangan dan Tidak Terprovokasi
Di tengah situasi yang memanas, MUI menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh berita atau isu yang belum tentu valid. Ramadan adalah waktu untuk introspeksi, bukan untuk memperburuk polarisasi.
2. Mendukung Upaya Diplomatis
MUI mendorong agar semua pihak menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik, bukan kekerasan. Peran negara-negara netral dan organisasi internasional sangat penting dalam mencegah eskalasi lebih lanjut.
3. Menjaga Persatuan Umat
MUI menyerukan agar umat Islam menjaga persatuan dan tidak terpecah karena perbedaan pandangan terhadap konflik. Solidaritas harus tetap dijaga, terutama dalam mendukung rakyat Palestina.
4. Tidak Membenarkan Kekerasan terhadap Warga Sipil
Meskipun memahami pembelaan diri, MUI tetap menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan, berapa pun motifnya. Ini merupakan prinsip dasar dalam ajaran Islam.
5. Mendoakan Korban dan Korban Jiwa
MUI menyerukan agar umat Islam mendoakan korban dari semua pihak, termasuk korban sipil Palestina, Iran, dan bahkan warga sipil Israel yang tak bersalah.
6. Meningkatkan Solidaritas dengan Palestina
Palestina tetap menjadi fokus utama. MUI mendorong peningkatan solidaritas, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, maupun dukungan politik terhadap kemerdekaan Palestina.
7. Menjaga Etika dalam Menyebarkan Informasi
MUI mengingatkan agar tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi. Hoaks dan propaganda hanya memperburuk situasi dan menciptakan ketakutan yang tidak perlu.
8. Menilai Ulang Kebijakan Luar Negeri Indonesia
MUI meminta pemerintah Indonesia untuk meninjau ulang kebijakan luar negerinya, khususnya dalam forum internasional. Indonesia harus lebih tegas dalam mendukung keadilan bagi Palestina.
9. Mendorong Peran Mediator Internasional
MUI menilai bahwa peran mediator internasional sangat penting dalam menyelesaikan konflik. Negara-negara yang memiliki pengaruh harus diminta turun tangan.
10. Menjaga Nilai-nilai Kemanusiaan
Terlepas dari perbedaan ideologi atau agama, MUI menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi. Setiap tindakan harus berlandaskan keadilan dan kebenaran.
Dampak Konflik bagi Palestina
Konflik antara AS-Israel dan Iran memiliki dampak langsung terhadap Palestina. Semakin memanasnya ketegangan di kawasan membuat fokus internasional bergeser, dan isu Palestina berisiko terabaikan.
| Aspek | Dampak terhadap Palestina |
|---|---|
| Perhatian Internasional | Menurun karena fokus pada konflik Iran-Israel |
| Bantuan Kemanusiaan | Terhambat karena ketegangan logistik dan politik |
| Dukungan Politik | Lemah karena blok Barat fokus pada kepentingan strategis |
| Kondisi di Jalur Gaza | Semakin memburuk akibat blokade dan ketidakstabilan |
Peran Indonesia dalam Menghadapi Krisis
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus mendukung Palestina. Namun, MUI menilai bahwa dukungan ini belum optimal, terutama dalam forum internasional.
Indonesia harus lebih tegas dalam menyuarakan keadilan bagi Palestina, bukan hanya melalui pernyataan diplomatik, tetapi juga melalui langkah konkret seperti meninjau kembali keanggotaan dalam mekanisme internasional yang dianggap tidak efektif.
Penutup
Tausiyah MUI ini bukan sekadar respons terhadap serangan militer, tetapi juga panggilan untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Di tengah ketegangan global yang semakin rumit, suara moral seperti ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan dan keutuhan umat.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat terkini sesuai dengan rilis resmi MUI per 1 Maret 2026. Data dan situasi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan konflik di lapangan.





