
Francesco Bagnaia akhirnya angkat bicara soal performa mengecewakannya sepanjang MotoGP 2025. Pembalap dua kali juara dunia itu mengungkap bahwa salah satu penyebab utama penurunan performanya adalah terlalu banyaknya intervensi dari tim Ducati. Menurutnya, “kebisingan” di garasi justru membuatnya semakin sulit menemukan ritme balapan yang optimal.
Setelah menjadi andalan tim sejak debut di kelas utama pada 2021, Bagnaia yang biasanya konsisten di podium akhirnya tergelincir. Musim lalu, ia hanya finis di posisi kelima di klasemen akhir, jauh dari posisi puncak yang biasa ia tempati. Dua kemenangan Grand Prix dan dua kemenangan Sprint yang diraihnya sepanjang musim tak cukup untuk menutupi deretan hasil buruk di paruh akhir musim.
Penurunan Performa yang Drastis
Musim 2025 jelas bukan musim yang mudah bagi Bagnaia. Ia hanya dua kali naik podium tertinggi dan gagal lolos ke Q2 dalam empat sesi kualifikasi. Lebih parahnya lagi, dari tujuh balapan terakhir, ia gagal finis sebanyak enam kali. Angka itu sangat kontras dengan performa gemilangnya di musim 2024, di mana ia mencatat 11 kemenangan dan 16 podium.
Ketika performa mulai menurun, reaksi dari tim pun berubah. Bagnaia mengaku bahwa suasana garasi yang dulunya tenang dan fokus mulai terganggu. Semakin banyak pihak yang memberi masukan, semakin rumit pula komunikasi dan pengambilan keputusan teknis.
1. Intervensi Berlebihan dari Tim
Bagnaia menjelaskan bahwa saat performa mulai tidak konsisten, banyak pihak di tim mulai ikut campur. “Dalam situasi sulit, semua orang ingin menyampaikan pendapatnya,” ujarnya. Ia merasa seperti dihujani “seribu pertanyaan” setiap kali kembali ke garasi. Padahal, saat performa bagus, ia hanya berdiskusi dengan crew chief dan teknisi inti.
| Situasi | Komunikasi dengan Tim |
|---|---|
| Saat performa bagus | Berinteraksi dengan crew chief dan teknisi inti |
| Saat performa buruk | Dibanjiri pertanyaan dari banyak pihak |
2. Kebisingan yang Mengganggu Fokus
Menurut Bagnaia, terlalu banyak masukan justru membuatnya kehilangan arah. Ia merasa sulit memprioritaskan masukan mana yang benar-benar membantu dan mana yang justru membingungkan. Hubungan kerja yang selama ini solid dengan kru inti pun mulai retak karena banyaknya pihak yang ikut memberi saran teknis.
3. Adaptasi yang Salah terhadap GP25
Selain faktor internal, Bagnaia juga mengakui kesalahan pribadinya. Ia terlalu berusaha membuat motor GP25 terasa seperti GP24 yang sangat kompetitif di musim sebelumnya. Padahal, karakter mesin sudah berbeda. “Saya mungkin terlalu yakin bisa mengulang performa GP24. Padahal karakter motor sudah berubah,” katanya.
Ia menyebut upaya itu sebagai pemborosan waktu. Meski begitu, ia tetap mengapresiasi kerja keras tim yang terus mencoba berbagai setelan demi mencari solusi.
| Motor | Karakteristik | Hasil Adaptasi |
|---|---|---|
| GP24 | Stabil, responsif | Sangat kompetitif |
| GP25 | Lebih keras, kurang grip | Sulit diadaptasi |
4. Eksperimen Teknis yang Berlebihan
Tim Ducati melakukan banyak eksperimen setelan dan komponen sepanjang musim. Bagnaia mengaku bahwa ia dan tim terus mencoba berbagai konfigurasi demi menemukan setup ideal. Namun, hasilnya justru sebaliknya. Semakin banyak eksperimen, semakin tidak menentu pula performa motor.
5. Kurangnya Solusi Instan dari Tim Teknis
Bagnaia juga menyebut bahwa tim teknis Ducati tidak mampu memberinya solusi cepat saat masalah mulai muncul. Ia merasa seperti berjuang sendirian untuk menemukan jawaban atas masalah adaptasi dengan GP25. Padahal, di musim-musim sebelumnya, tim biasanya bisa cepat merespons perubahan kondisi balapan.
Masa Depan yang Tak Pasti
Isu kontrak kembali menghiasi karier Bagnaia menjelang akhir musim 2025. Ada laporan yang menyebut bahwa ia telah menandatangani kontrak dengan Aprilia Racing untuk musim 2027. Jika benar, maka musim ini menjadi tahun terakhirnya bersama Ducati.
| Tahun | Tim | Status |
|---|---|---|
| 2021–2025 | Ducati Lenovo Team | Kontrak berakhir |
| 2026 | Ducati Lenovo Team | Musim terakhir (diperkirakan) |
| 2027 | Aprilia Racing | Dilaporkan telah disepakati |
6. Spekulasi Pengganti di Ducati
Jika Bagnaia benar-benar hengkang ke Aprilia, Ducati akan butuh pembalap baru. Nama Pedro Acosta sempat disebut-sebut sebagai calon kuat untuk mengisi posisi itu. Ia akan menjadi rekan setim Marc Marquez jika rencana itu terwujud.
Performa Awal Musim 2026 Masih Mengecewakan
Di seri pembuka MotoGP Thailand 2026, Bagnaia belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Ia hanya start dari posisi ke-13 dan finis di posisi kesembilan di kedua balapan. Hasil itu menambah tekanan, terutama di tengah isu kontrak dan performa tim Ducati yang juga sedang mengalami penurunan.
7. Tekanan untuk Bangkit di Musim Terakhir
Musim 2026 menjadi momentum penting bagi Bagnaia. Ia harus membuktikan bahwa dirinya masih layak berada di barisan depan MotoGP. Dengan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun, tekanan untuk bangkit semakin besar.
8. Kebutuhan untuk Menyederhanakan Komunikasi
Salah satu pelajaran penting yang diambil Bagnaia dari musim lalu adalah perlunya menyederhanakan komunikasi di garasi. Ia menyadari bahwa terlalu banyak suara justru mengacaukan proses pengambilan keputusan. Di musim ini, ia berharap bisa kembali bekerja dengan kru inti secara lebih fokus dan efektif.
9. Fokus pada Adaptasi Motor
Bagnaia juga menyatakan bahwa ia akan lebih realistis dalam menghadapi karakter baru motor. Ia tidak akan memaksakan GP25 untuk terasa seperti GP24, melainkan mencari cara terbaik untuk menyesuaikan diri dengan kelebihan dan kekurangan motor baru.
10. Menjaga Konsistensi di Balik Hasil Buruk
Meski hasilnya tidak maksimal, Bagnaia tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Ia terus bekerja keras bersama tim, meski dalam kondisi yang tidak ideal. Ia menyadari bahwa konsistensi adalah kunci untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Kesimpulan
Musim 2025 menjadi titik balik dalam karier Francesco Bagnaia. Banyaknya intervensi dan kurangnya kejelasan teknis membuat performanya terpuruk. Namun, ia tidak menyerah. Dengan musim 2026 sebagai tahun terakhir di Ducati, Bagnaia punya kesempatan untuk membuktikan bahwa ia masih salah satu pembalap terbaik di MotoGP.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada laporan dan pernyataan publik hingga Maret 2026. Data seperti hasil balapan, posisi klasemen, dan isu kontrak bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.





