
Punya stok minyak jelantah di rumah dan bingung mau dibuang ke mana? Atau mungkin pernah dengar kalau minyak bekas goreng bisa dijual dan menghasilkan uang tambahan?
Pertamina, perusahaan energi milik negara, sejak tahun 2023 mulai serius menjalankan program pengumpulan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) dari masyarakat. Program ini bagian dari komitmen Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan, khususnya biodiesel berbasis minyak jelantah yang lebih ramah lingkungan. Bahkan di tahun 2026, target pengumpulan UCO nasional mencapai 2,5 juta kiloliter untuk memenuhi kebutuhan program mandatori B40—campuran 40% biodiesel dalam solar.
Yang menarik, masyarakat kini bisa ikut berkontribusi sekaligus dapat penghasilan tambahan dari minyak jelantah yang tadinya cuma dibuang. Tapi ada yang perlu diluruskan: tidak semua minyak bekas bisa diterima Pertamina, dan prosesnya juga ada aturan mainnya. Banyak yang mengira bisa langsung datang ke SPBU bawa jerigen minyak jelantah lalu dapat uang cash—faktanya tidak sesimpel itu.
Apa Itu Program Pengumpulan Minyak Jelantah Pertamina?
Program pengumpulan minyak jelantah Pertamina adalah inisiatif untuk mengumpulkan used cooking oil dari berbagai sumber—mulai dari rumah tangga, restoran, hotel, hingga industri food & beverage—untuk diolah menjadi bahan baku biodiesel. Program ini dijalankan melalui anak perusahaan Pertamina, yaitu PT Pertamina Patra Niaga dan PT Kilang Pertamina Internasional.
Biodiesel dari minyak jelantah punya keunggulan signifikan dibanding biodiesel dari minyak sawit mentah. Selain lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah, penggunaan UCO juga mengurangi tekanan terhadap deforestasi akibat perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan data Kementerian ESDM, satu liter minyak jelantah bisa menghasilkan sekitar 0,9 liter biodiesel setelah melalui proses transesterifikasi.
Pertamina bekerja sama dengan berbagai mitra seperti Waste4Change, Bank Sampah, komunitas lingkungan, hingga koperasi untuk memperluas jangkauan pengumpulan. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang, sudah ada ratusan titik drop point yang menerima setoran minyak jelantah dari masyarakat.
Nah, yang perlu dipahami: Pertamina tidak langsung beli dari individu yang bawa 1-2 liter minyak jelantah. Sistemnya menggunakan agregator atau pengumpul sebagai perantara. Jadi masyarakat setor ke drop point, baru agregator yang kumpulkan dalam jumlah besar untuk dijual ke Pertamina.
Syarat Minyak Jelantah yang Diterima Pertamina
Tidak semua minyak bekas goreng bisa diterima dalam program ini. Ada standar kualitas yang harus dipenuhi agar minyak jelantah layak diolah jadi biodiesel.
Kriteria Minyak Jelantah yang Diterima:
- Berasal dari minyak goreng nabati (kelapa sawit, jagung, kedelai, dll)
- Sudah digunakan untuk menggoreng, minimal 2-3 kali pakai
- Warna cokelat kehitaman, bukan hitam pekat atau gosong
- Tidak tercampur air, detergen, atau bahan kimia lainnya
- Tidak ada kotoran padat seperti sisa makanan, arang, atau sampah
- Bebas dari bau tengik berlebihan atau bau kimia
- Free Fatty Acid (FFA) maksimal 15% (untuk transaksi skala besar)
Untuk rumah tangga biasa, yang penting minyak sudah disaring bersih dari sisa gorengan dan disimpan dalam wadah tertutup. Jangan campur dengan air atau minyak tanah karena bisa merusak kualitas dan ditolak saat penyetoran.
Minyak yang Tidak Diterima:
- Minyak goreng baru yang belum dipakai
- Minyak yang sudah tercampur dengan air hujan atau air cucian
- Minyak dengan bau busuk atau sudah berjamur
- Oli bekas kendaraan atau pelumas industri
- Minyak yang sudah dicampur detergen atau sabun
- Minyak dengan endapan lumpur atau pasir
Kalau ada keraguan apakah minyak layak atau tidak, tanya dulu ke petugas drop point sebelum membawa dalam jumlah banyak.
Harga Beli Minyak Jelantah 2026
Salah satu yang paling sering ditanyakan: berapa sih harga minyak jelantah per liter atau per kilogram? Jawabannya tidak fix, karena harga fluktuatif tergantung kualitas, volume, dan mekanisme pasar.
Berdasarkan data dari berbagai agregator dan bank sampah yang bekerja sama dengan Pertamina per awal 2026, berikut kisaran harga umum:
| Kualitas/Volume | Harga per Liter | Harga per Kg | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Rumah Tangga (Retail) | Rp2.500 – Rp3.500 | Rp2.700 – Rp3.800 | Untuk setoran kecil 1-20 liter |
| Restoran/Warung (Menengah) | Rp3.500 – Rp4.500 | Rp3.800 – Rp4.900 | Volume 20-100 liter per bulan |
| Industri/Hotel (Bulk) | Rp4.500 – Rp6.000 | Rp4.900 – Rp6.500 | Volume 100+ liter, kontrak rutin |
| Kualitas Premium (FFA rendah) | Rp6.000 – Rp8.000 | Rp6.500 – Rp8.700 | Minyak jernih, FFA |
Harga di atas merupakan kisaran umum dari berbagai agregator dan dapat berbeda antar wilayah serta berubah sesuai harga pasar global biodiesel. Untuk harga paling akurat, sebaiknya konfirmasi langsung ke drop point atau agregator terdekat.
Perlu diingat bahwa harga Rp2.500-Rp3.500 per liter untuk rumah tangga itu sudah cukup bagus mengingat minyak jelantah ini sebelumnya cuma limbah yang dibuang. Kalau rumah tangga bisa kumpulin 10 liter per bulan, bisa dapat tambahan Rp25.000-Rp35.000. Untuk restoran atau hotel dengan volume ratusan liter per bulan, ini bisa jadi sumber pendapatan sampingan yang lumayan.
Alur dan Cara Menjual Minyak Jelantah ke Pertamina
Seperti dijelaskan sebelumnya, masyarakat tidak bisa langsung datang ke kantor Pertamina atau kilang untuk jual minyak jelantah. Ada tahapan yang harus diikuti:
Untuk Rumah Tangga dan Pelaku Usaha Kecil:
- Kumpulkan minyak jelantah di rumah dalam wadah tertutup (jerigen atau botol bekas)
- Saring minyak untuk memisahkan dari sisa gorengan atau kotoran
- Cari drop point atau bank sampah terdekat yang bekerja sama dengan agregator Pertamina
- Bawa minyak jelantah ke drop point sesuai jadwal operasional
- Petugas akan timbang dan cek kualitas minyak
- Pembayaran langsung tunai atau transfer sesuai kesepakatan
Untuk Restoran, Hotel, atau Industri F&B:
- Hubungi agregator resmi mitra Pertamina di wilayah operasional
- Negosiasikan harga, volume minimum, dan jadwal pengambilan
- Buat kontrak kerja sama untuk pasokan rutin (opsional tapi disarankan)
- Agregator akan jadwalkan pengambilan minyak jelantah berkala
- Pembayaran via transfer bank sesuai invoice
Untuk mencari drop point terdekat, bisa cek melalui aplikasi atau website mitra seperti Waste4Change, Gringgo, atau langsung tanya ke RT/RW apakah ada program bank sampah yang terima minyak jelantah. Di Jakarta misalnya, ada ratusan bank sampah yang sudah terintegrasi dengan sistem pengumpulan UCO.
Daftar Agregator dan Drop Point Minyak Jelantah
Pertamina bekerja sama dengan berbagai agregator di seluruh Indonesia untuk memudahkan pengumpulan. Berikut beberapa mitra utama yang bisa dihubungi:
Agregator Nasional:
- Waste4Change: Platform pengelolaan sampah yang punya program UCO collection di Jabodetabek, Bandung, Surabaya. Website: waste4change.com
- PT Catur Sentosa Adiprana (CSA): Salah satu aggregator terbesar untuk minyak jelantah industri
- PT Wilmar Nabati Indonesia: Supplier UCO untuk biodiesel, terima dari berbagai sumber
- Gringgo: Aplikasi daur ulang yang fasilitasi penjualan minyak jelantah di beberapa kota
Drop Point Berdasarkan Wilayah:
- Jakarta: Bank Sampah Unit di seluruh kelurahan, cek ke RT/RW setempat
- Surabaya: Koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup kota Surabaya
- Bandung: Waste4Change drop point di beberapa mal dan kantor
- Semarang: Bank Sampah Gemah Ripah dan mitra komunitas
- Medan: Hubungi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Utara
Untuk informasi drop point terlengkap, bisa hubungi call center Pertamina di 1500000 atau cek ke kantor Pertamina Regional terdekat. Beberapa SPBU Pertamina juga mulai menyediakan tempat pengumpulan minyak jelantah, meskipun belum semua.
Perhitungan Potensi Pendapatan dari Minyak Jelantah
Biar lebih jelas seberapa besar potensi penghasilan dari jual minyak jelantah, berikut simulasi untuk berbagai skala:
Rumah Tangga (Keluarga 4 orang):
- Konsumsi minyak goreng: 2 liter per minggu
- Frekuensi pakai ulang: 2-3 kali
- Akumulasi minyak jelantah: 8 liter per bulan
- Harga jual: Rp3.000 per liter
- Pendapatan per bulan: Rp24.000
- Pendapatan per tahun: Rp288.000
Memang tidak besar, tapi lumayan untuk mengurangi pengeluaran bulanan dan sekaligus berkontribusi pada lingkungan.
Warung Makan (Skala Kecil):
- Konsumsi minyak goreng: 20 liter per minggu
- Minyak jelantah terkumpul: 70 liter per bulan
- Harga jual: Rp4.000 per liter
- Pendapatan per bulan: Rp280.000
- Pendapatan per tahun: Rp3.360.000
Angka ini cukup signifikan untuk usaha kecil, bisa untuk tambahan modal atau tabungan darurat.
Restoran/Hotel (Skala Menengah):
- Konsumsi minyak goreng: 200 liter per minggu
- Minyak jelantah terkumpul: 700 liter per bulan
- Harga jual: Rp5.000 per liter (nego kontrak)
- Pendapatan per bulan: Rp3.500.000
- Pendapatan per tahun: Rp42.000.000
Untuk skala ini, minyak jelantah bukan lagi sampingan tapi bisa jadi revenue stream yang material.
Perhitungan di atas bersifat ilustratif dan angka aktual bisa berbeda tergantung harga pasar, kualitas minyak, dan lokasi geografis.
Manfaat Lingkungan dari Program Ini
Selain aspek ekonomi, program pengumpulan minyak jelantah punya dampak lingkungan yang sangat positif. Membuang minyak jelantah sembarangan bisa mencemari tanah dan air tanah karena minyak tidak bisa terurai secara alami.
Satu liter minyak jelantah yang dibuang ke saluran air bisa mencemari hingga 1 juta liter air bersih. Minyak akan membentuk lapisan di permukaan air yang menghambat oksigen masuk, sehingga ekosistem air tercemar dan ikan-ikan mati. Di perkotaan, minyak jelantah yang dibuang ke got juga jadi salah satu penyebab penyumbatan saluran dan banjir.
Dengan mengumpulkan minyak jelantah untuk diolah jadi biodiesel, ada beberapa manfaat besar:
Pertama, mengurangi emisi gas rumah kaca. Biodiesel dari UCO punya carbon footprint 88% lebih rendah dibanding solar fosil. Artinya setiap liter biodiesel UCO yang dipakai menggantikan solar bisa mengurangi emisi setara 3,5 kg CO2.
Kedua, mengurangi ketergantungan pada minyak sawit mentah untuk biodiesel. Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar dunia, tapi ekspansi perkebunan sawit sering dikaitkan dengan deforestasi. Dengan menggunakan UCO, tekanan terhadap hutan bisa berkurang.
Ketiga, menciptakan ekonomi sirkular. Minyak yang tadinya limbah jadi sumber daya yang punya nilai ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengumpulan, pengolahan, dan distribusi UCO.
Menurut data Kementerian ESDM, Indonesia punya potensi UCO hingga 3,9 juta kiloliter per tahun dari berbagai sumber. Tapi yang terkumpul baru sekitar 1,2 juta kiloliter di tahun 2025. Artinya masih ada peluang besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.
Tantangan dan Kendala Program Pengumpulan UCO
Meskipun program ini bagus, implementasinya masih menghadapi beberapa tantangan. Berdasarkan laporan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), ada beberapa kendala utama:
Infrastruktur Pengumpulan Belum Merata
Drop point baru tersedia di kota-kota besar. Daerah pinggiran, kabupaten, atau pedesaan masih minim akses. Akibatnya masyarakat di luar kota kesulitan ikut program ini meskipun punya minyak jelantah.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Banyak yang tidak tahu bahwa minyak jelantah bisa dijual atau punya nilai ekonomi. Edukasi dari pemerintah dan pelaku industri masih terbatas, belum menyentuh semua lapisan masyarakat.
Harga Fluktuatif
Harga minyak jelantah mengikuti harga biodiesel global yang volatile. Kadang harga turun drastis sehingga agregator kurang tertarik mengumpulkan, atau sebaliknya harga naik tinggi tapi pasokan dari masyarakat tidak mencukupi.
Kompetisi dengan Pengepul Illegal
Ada pengepul yang beli minyak jelantah untuk diolah kembali jadi minyak goreng curang (oplosan) yang dijual murah tapi berbahaya untuk kesehatan. Praktik ini masih marak di beberapa daerah dan merugikan program resmi.
Logistik dan Biaya Transportasi
Untuk daerah terpencil, biaya angkut minyak jelantah ke kilang bisa lebih mahal dari nilai minyaknya sendiri. Ini jadi disinsentif bagi agregator untuk ekspansi ke wilayah yang jauh dari pabrik biodiesel.
Pemerintah lewat Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup terus berupaya mengatasi kendala ini melalui regulasi, insentif fiskal untuk agregator, dan kampanye publik tentang pentingnya pengumpulan UCO.
Tips Menyimpan dan Mengelola Minyak Jelantah di Rumah
Agar minyak jelantah tetap berkualitas baik dan tidak mencemari lingkungan sebelum disetor, berikut beberapa tips praktis:
Pertama, saring minyak setelah digunakan. Gunakan saringan halus atau kain bersih untuk memisahkan remah-remah gorengan. Minyak yang bersih dari kotoran lebih tahan lama dan harganya lebih baik.
Kedua, simpan dalam wadah tertutup rapat. Jerigen bekas air mineral, botol plastik bekas, atau drum kecil bisa dipakai. Pastikan wadah bersih dan kering sebelum diisi. Tutup rapat agar tidak ada lalat atau serangga masuk.
Ketiga, tempatkan di area teduh dan sejuk. Jangan simpan di tempat panas atau terkena sinar matahari langsung karena bisa mempercepat oksidasi dan merusak kualitas minyak.
Keempat, beri label tanggal pengisian. Ini membantu tracking berapa lama minyak sudah disimpan. Sebaiknya setor dalam 1-2 bulan setelah dikumpulkan agar kualitas tidak turun.
Kelima, jangan campur dengan air atau bahan lain. Kalau hujan masuk atau tercampur detergen, minyak jadi rusak dan tidak bisa diterima drop point.
Untuk rumah tangga yang ingin lebih sistematis, bisa sediakan dua wadah: satu untuk minyak jelantah yang masih layak pakai ulang 1-2 kali lagi, satu lagi untuk minyak yang sudah benar-benar hitam dan siap disetor. Ini memaksimalkan penggunaan minyak sekaligus memastikan yang disetor memang berkualitas.
Kontak dan Informasi Lebih Lanjut
Untuk informasi lengkap tentang program pengumpulan minyak jelantah atau mencari drop point terdekat, bisa hubungi:
PT Pertamina Patra Niaga
- Call Center: 1500000
- Email: [email protected]
- Website: www.pertamina.com
PT Kilang Pertamina Internasional
- Email: [email protected]
- Website: www.kilangpertamina.com
Kementerian ESDM
- Direktorat Jenderal EBTKE
- Email: [email protected]
- Website: www.ebtke.esdm.go.id
Waste4Change (Mitra Agregator)
- WhatsApp: +62 811-2224-422
- Email: [email protected]
- Website: www.waste4change.com
Untuk keluhan atau pengaduan terkait praktik pengumpulan minyak jelantah yang tidak sesuai standar, bisa lapor ke Kementerian ESDM atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kesimpulan
Menjual minyak jelantah ke Pertamina bukan hanya soal mendapat uang tambahan, tapi juga kontribusi nyata untuk lingkungan dan ketahanan energi nasional. Dengan harga Rp2.500 hingga Rp8.000 per liter tergantung kualitas dan volume, program ini memberi insentif ekonomi bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi.
Yang penting dipahami: prosesnya melalui agregator dan drop point, bukan langsung ke Pertamina. Pastikan minyak jelantah memenuhi standar kualitas, disimpan dengan baik, dan disetor ke tempat resmi yang terpercaya. Dengan kesadaran dan partisipasi lebih banyak orang, target pengumpulan UCO nasional bisa tercapai dan Indonesia makin dekat ke energi bersih dan berkelanjutan. Terima kasih sudah membaca, semoga minyak jelantah di rumah tidak lagi terbuang sia-sia tapi bisa jadi berkah!
Sumber dan Referensi
- PT Pertamina Patra Niaga – Program pengumpulan UCO
- Kementerian ESDM – Target mandatori B40 dan pengumpulan UCO nasional
- Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi.or.id)
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Data dampak pembuangan minyak jelantah
Disclaimer: Harga minyak jelantah yang tercantum dalam artikel ini berdasarkan data dari berbagai agregator per Januari 2026 dan bersifat fluktuatif mengikuti harga pasar biodiesel global. Harga aktual dapat berbeda antar wilayah dan berubah sewaktu-waktu. Pembaca disarankan untuk mengonfirmasi harga terkini langsung ke drop point atau agregator terdekat sebelum menyetorkan minyak jelantah. Informasi tentang syarat dan prosedur juga dapat berubah sesuai kebijakan Pertamina dan regulasi pemerintah.
FAQ Seputar Cara Jual Minyak Jelantah ke Pertamina, Ini Syarat, Harga, dan Alur Lengkap
Melalui program “Green Movement”, Pertamina Patra Niaga umumnya menghargai minyak jelantah masyarakat sebesar:
*Harga dapat berubah sewaktu-waktu (fluktuatif) dan dibayarkan dalam bentuk saldo e-wallet aplikasi UCOllect.
Untuk menjual jelantah, Anda wajib memenuhi syarat berikut:
- Mengunduh aplikasi MyPertamina.
- Melakukan registrasi akun pada fitur UCOllect by Noovoleum (di dalam MyPertamina).
- Membawa minyak jelantah murni (bebas dari sisa makanan, air, atau deterjen).
- Menggunakan wadah tertutup saat membawa ke lokasi.
- Buka aplikasi MyPertamina dan pilih menu “Tukar Jelantah”.
- Datangi mesin UCOllect Box yang tersedia di SPBU Pertamina terpilih.
- Scan QR Code pada mesin menggunakan aplikasi.
- Tuangkan minyak jelantah ke dalam mesin secara perlahan.
- Mesin akan otomatis menghitung volume, dan saldo akan masuk ke e-wallet UCOllect Anda secara real-time.
Saat ini mesin UCOllect Box tersedia bertahap di berbagai lokasi strategis:
- SPBU Pertamina COCO (Kota Besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya).
- Agen LPG Resmi tertentu.
- Beberapa Rumah Sakit IHC.





